BIOKIMIA

    II.            Perkembangan Sel

Dalam biologi, sel adalah kumpulan materi paling sederhana yang dapat hidup dan merupakan unit penyusun semua makhluk hidup. Sel mampu melakukan semua aktivitas kehidupan dan sebagian besar reaksi kimia untuk mempertahankan kehidupan berlangsung di dalam sel. Kebanyakan makhluk hidup tersusun atas sel tunggal, atau disebut organisme uniselular, misalnya bakteri dan ameba. Makhluk hidup lainnya, termasuk tumbuhan, hewan, dan manusia, merupakan organisme multiselular yang terdiri dari banyak tipe sel terspesialisasi dengan fungsinya masing-masing. Tubuh manusia, misalnya, tersusun atas lebih dari 10 sel. Namun demikian, seluruh tubuh semua organisme berasal dari hasil pembelahan satu sel. Contohnya, tubuh bakteri berasal dari pembelahan sel bakteri induknya, sementara tubuh tikusberasal dari pembelahan sel telur induknya yang sudah dibuahi.

Sel-sel pada organisme multiseluler tidak akan bertahan lama jika masing-masing berdiri sendiri. Sel yang sama dikelompokkan menjadi jaringan, yang membangun organ dan kemudiansistem organ yang membentuk tubuh organisme tersebut. Contohnya, sel otot jantung membentuk jaringan otot jantung pada organ jantung yang merupakan bagian dari sistem organperedaran darah pada tubuh manusia. Sementara itu, sel sendiri tersusun atas komponen-komponen yang disebut organel.

Sel terkecil yang dikenal manusia ialah bakteri Mycoplasma dengan diameter 0,0001 sampai 0,001 mm, sedangkan salah satu sel tunggal yang bisa dilihat dengan mata telanjang ialah telur ayam yang belum dibuahi. Akan tetapi, sebagian besar sel berdiameter antara 1 sampai 100 µm (0,001–0,1 mm) sehingga hanya bisa dilihat dengan mikroskop.[8] Penemuan dan kajian awal tentang sel memperoleh kemajuan sejalan dengan penemuan dan penyempurnaan mikroskop pada abad ke-17. Robert Hooke pertama kali mendeskripsikan dan menamai sel pada tahun 1665 ketika ia mengamati suatu irisan gabus (kulit batang pohon ek) dengan mikroskop yang memiliki perbesaran 30 kali. Namun demikian, teori sel sebagai unit kehidupan baru dirumuskan hampir dua abad setelah itu oleh Matthias Schleiden dan Theodor Schwann. Selanjutnya, sel dikaji dalam cabang biologi yang disebut biologi sel.

 

A.    Perkembangan Sel Mikroba

Sel merupakan unit fisik terkecil dari organisme hidup
Komposisi material sel: DNA, RNA, protein, lemak, fosfolipid
ada perbedaan sangat mendasar antara sel bakteri dan sianobakteria dengan sel hewan dan sel tumbuhan Ada dua tipe sel: Sel Prokariotik, merupakan tipe sel pada bakteri dan sianobakteria/alga biru (disebut jasad prokariot).
Sel Eukariotik, merupakan tipe sel pada jasad yang tingkatnya lebih tinggi dari bakteri (disebut jasad eukariot) yaitu khamir, jamur (fungi), alga selain alga biru, protozoa, dan tanaman serta hewan.

a)  Bakteri

Bakteri (dari kata Latin bacterium; jamak: bacteria) adalah kelompok organisme yang tidak memiliki membran inti sel. Organisme ini termasuk ke dalam domain prokariota dan berukuran sangat kecil (mikroskopik), serta memiliki peran besar dalam kehidupan di bumi. Beberapa kelompok bakteri dikenal sebagai agen penyebab infeksi dan penyakit, sedangkan kelompok lainnya dapat memberikan manfaat dibidang pangan, pengobatan, dan industri. Struktur sel bakteri relatif sederhana: tanpa nukleus/inti sel, kerangka sel, dan organel-organel lain seperti mitokondria dankloroplas. Hal inilah yang menjadi dasar perbedaan antara sel prokariot dengan sel eukariot yang lebih kompleks.

Bakteri dapat ditemukan di hampir semua tempat: di tanah, air, udara, dalam simbiosis dengan organisme lain maupun sebagai agen parasit (patogen), bahkan dalam tubuh manusia. Pada umumnya, bakteri berukuran 0,5-5 μm, tetapi ada bakteri tertentu yang dapat berdiameter hingga 700 μm, yaitu Thiomargarita. Mereka umumnya memiliki dinding sel, seperti sel tumbuhan danjamur, tetapi dengan bahan pembentuk sangat berbeda (peptidoglikan). Beberapa jenis bakteri bersifat motil (mampu bergerak) dan mobilitasnya ini disebabkan oleh flagel.

1.      Struktur Sel

Seperti prokariot (organisme yang tidak memiliki membran inti) pada umumnya, semua bakteri memiliki struktur sel yang relatif sederhana. Sehubungan dengan ketiadaan membran inti, meteri genetik (DNA dan RNA) bakteri melayang-layang di daerah sitoplasma yang bernama nukleoid. Salah satu struktur bakteri yang penting adalah dinding sel. Bakteri dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok besar berdasarkan struktur dinding selnya, yaitu bakteri gram negatif dan bakteri gram positif. Bakteri gram positif memiliki dinding sel yang tersusun dari lapisan peptidoglikan (sejenis molekul polisakarida) yang tebal dan asam teikoat, sedangkan bakteri gram negatif memiliki lapisan peptidoglikan yang lebih tipis dan mempunyai struktur lipopolisakarida yang tebal. Metode yang digunakan untuk membedakan kedua jenis kelompok bakteri ini dikembangkan oleh ilmuwan Denmark, Hans Christian Gram pada tahun 1884.

Berkas:Prokaryote cell diagram.svgBanyak bakteri memiliki struktur di luar sel lainnya seperti flagel dan fimbria yang digunakan untuk bergerak, melekat dan konjugasi. Beberapa bakteri juga memiliki kapsul yang beperan dalam melindungi sel bakteri dari kekeringan dan fagositosis. Struktur kapsul inilah yang sering kali menjadi faktor virulensi penyebab penyakit, seperti yang ditemukan pada Escherichia coli dan Streptococcus pneumoniae. Bakteri juga memiliki kromosom, ribosom, dan beberapa spesies lainnya memiliki granula makanan, vakuola gas, danmagnetosom. Beberapa bakteri mampu membentuk diri menjadi endospora yang membuat mereka mampu bertahan hidup pada lingkungan ekstrim. Clostridium botulinum merupakan salah satu contoh bakteri penghasil endospora yang sangat tahan suhu dan tekanan tinggi, dimana bakteri ini juga termasuk golongan bakteri pengebab keracunan pada makanan kaleng. 

2.       Morfologi Bakteri

Berdasarkan bentuknya, bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu:

§  Kokus (Coccus) dalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola dan mempunyai beberapa variasi sebagai berikut:

§  Mikrococcus, jika kecil dan tunggal

§  Diplococcus, jka berganda dua-dua

§  Tetracoccus, jika bergandengan empat dan membentuk bujur sangkar

§  Sarcina, jika bergerombol membentuk kubus

§  Staphylococcus, jika bergerombol

§  Streptococcus, jika bergandengan membentuk rantai

§  Basil (Bacillus) adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang atau silinder, dan mempunyai variasi sebagai berikut:

§  Diplobacillus, jika bergandengan dua-dua

§  Streptobacillus, jika bergandengan membentuk rantai

§  Spiral (Spirilum) adalah bakteri yang berbentuk lengkung dan mempunyai variasi sebagai berikut:

§  Vibrio, (bentuk koma), jika lengkung kurang dari setengah lingkaran (bentuk koma)

§  Spiral, jika lengkung lebih dari setengah lingkaran

§  Spirochete, jika lengkung membentuk struktur yang fleksibel.

Bentuk tubuh/morfologi bakteri dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, medium, dan usia. Walaupun secara morfologi berbeda-beda, bakteri tetap merupakan sel tunggal yang dapat hidup mandiri bahkan saat terpisah dari koloninya.

3.       Alat Gerak

Banyak spesies bakteri yang bergerak menggunakan flagel. Bakteri yang tidak memiliki alat gerak biasanya hanya mengikuti pergerakan media pertumbuhannya atau lingkungan tempat bakteri tersebut berada. Sama seperti struktur kapsul, flagel juga dapat menjadi agen penyebab penyakit pada beberapa spesies bakteri. Berdasarkan tempat dan jumlah flagel yang dimiliki, bakteri dibagi menjadi lima golongan, yaitu:

§  Atrik, tidak mempunyai flagel.

§  Monotrik, mempunyai satu flagel pada salah satu ujungnya.

§  Lofotrik, mempunyai sejumlah flagel pada salah satu ujungnya.

§  Amfitrik, mempunyai satu flagel pada kedua ujungnya.

§  Peritrik, mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya. 

4.      Pertumbuhan Bakteri

Apabila satu bakteri tunggal (seperti E. coli di atas) diinokulasikan pada suatu medium dan memperbanyak diri dengan laju yang konstan/tetap, maka pada suatu waktu pertumbuhannya akan berhenti dikarenakan sokongan nutrisi pada lingkungan sudah tidak memadai lagi, sehingga akhirnya terjadi kemerosotan jumlah sel akibat banyak sel yang sudah tidak mendapatkan nutrisi lagi. Hingga akhirnya pada titik ekstrim menyebabkan terjadinya kematian total bakteri. Kejadian di atas apabila digambarkan dalam bentuk kurva adalah sebagaimana di bawah.

Gambar 4 : Kurva Pertumbuhan Bakteri

Kurva di atas disebut sebagai kurva pertumbuhan bakteri. Ada empat fase pada pertumbuhan bakteri sebagaimana tampak pada kurva, yaitu :


Tabel 3 : Ciri dan Fase pada Kurva Pertumbuhan

 

Fase Pertumbuhan

Ciri

Lag (lambat)

Tidak ada pertumbuhan populasi karena sel mengalami perubahan komposisi kimiawi dan ukuran serta bertambahnya substansi intraseluler sehingga siap untuk membelah diri.

Logaritma atau eksponensial

Sel membela diri dengan laju yang konstan, massa menjadi dua kali lipat, keadaan pertumbuhan seimbang.

Stationary (stasioner/tetap)

Terjadinya penumpukan racun akibat metabolisme sel dan kandungan nutrien mulai habis, akibatnya terjadi kompetisi nutrisi sehingga beberapa sel mati dan lainnya tetap tumbuh. Jumlah sel menjadi konstan.

Death (kematian)

Sel menjadi mati akibat penumpukan racun dan habisnya nutrisi, menyebabkan jumlah sel yang mati lebih banyak sehingga mengalami penurunan jumlah sel secara eksponensial.

Pengetahuan akan kurva pertumbuhan bakteri sangat penting untuk menggambarkan karakteristik pertumbuhan bakteri, sehingga akan mempermudah di dalam kultivasi (menumbuhkan) bakteri ke dalam suatu media, penyimpanan kultivasi dan penggantian media.

                                        

b)    Fungi

Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar makhluk hidup eukariotik heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi ke dalam sel-selnya. Fungi memiliki bermacam-macam bentuk. Awam mengenal sebagian besar anggota Fungi sebagai jamur, kapang, khamir, atau ragi, meskipun seringkali yang dimaksud adalah penampilan luar yang tampak, bukan spesiesnya sendiri. Kesulitan dalam mengenal fungi sedikit banyak disebabkan adanya pergiliran keturunan yang memiliki penampilan yang sama sekali berbeda (ingat metamorfosis pada serangga ataukatak). Fungi memperbanyak diri secara seksual dan aseksual. Perbanyakan seksual dengan cara :dua hifa dari jamur berbeda melebur lalu membentuk zigot lalu zigot tumbuh menjadi tubuh buah, sedangkan perbanyakan aseksual dengan cara membentuk spora, bertunas atau fragmentasi hifa. Jamur memiliki kotak spora yang disebut sporangium. Di dalam sporangium terdapat spora. Contoh jamur yang membentuk spora adalah Rhizopus. Contoh jamur yang membentuk tunas adalah Saccharomyces. Hifa jamur dapat terpurus dan setiap fragmen dapat tumbuh menjadi tubuh buah. Ilmu yang mempelajari fungi disebut mikologi (dari akar kata Yunani μυκες, “lendir”, dan λογοσ, “pengetahuan”, “lambang”).

1.      Posisi Fungi dalam Taksonomi

Sebelum dikenalkannya metode molekuler untuk analisis filogenetik, dulu fungi dimasukkan ke dalam kerajaan tumbuhan/plantae karena fungi memiliki beberapa kemiripan dengan tumbuhan yaitu tidak dapat berpindah tempat, juga struktur morfologi dan tempat hidupnya juga mirip. Seperti tanaman, kebanyakan fungi juga tumbuh di tanah. Dalam perkembangannya, fungi dipisahkan dari kerajaan tumbuhan dan mempunyai kerajaan sendiri karena banyak hal yang berbeda. Fungi bukan autotrofseperti tumbuhan melainkan heterotrof sehingga lebih dekat ke hewan. Usaha menyatukan fungi dengan hewan pada golongan yang sama juga gagal karena fungi mencerna makanannya di luar tubuh (eksternal), tidak seperti hewan yang mencerna secara internal. Selain itu, sel-sel fungi berdinding sel yang tersusun dari kitin, tidak seperti sel hewan.

Beberapa ciri-ciri fungi yang mirip dengan makhluk hidup lain:

§  Dengan jenis eukariota lainnya: Sama seperti eukariota, sel fungi memiliki membran inti dengan kromosom yang mengandung DNA. Selain itu, sel fungi juga memiliki beberapa organel sitoplasmik seperti mitokondriasterol, dan ribosom ).

§  Dengan hewan: Fungi tidak mempunyai kloroplas dan merupakan organismeheterotrof, memerlukan senyawa organik sebagai sumber energinya.

§  Dengan tumbuhan: Fungi mempunyai dinding seldan vakuola. Fungi bisa bereproduksi secara seksual maupun aseksual, dan seperti grup tanaman basal lainnya (seperti tumbuhan paku dan lumut daun), fungi akan menghasilkan spora. Mirip juga dengan lumut daun dan algae, fungi memiliki nukleus yang haploid

2.    Cara Hidup

Fungi hidup menyerap zat organik dari lingkunganya. Berdasarkan cara memperoleh makannya, fungi mempunyai sifat sebagai berikut:

§  Saprofit

§  Parasit

§  Mutual

dan lain – lain

3.      Reproduksi

Fungi melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual terjadi dengan pembentukan kuncup atau tunas pada jamur uniselule serta pemutusan benang hifa (fragmentasi miselium) dan pembentukan spora aseksual (spora vegetatif) pada fungi multiseluler. Reproduksi jamur secara seksual dilakukan oleh spora seksual. Spora seksual dihasilkan secara singami. Singgami terdiri dari dua tahap, yaitu tahap plasmogami dan tahap kariogami.

4.      Klasifikasi

Fungi diklasifikasikan menjadi 6 klasifilasi:

§  Zygomycota

§  Ascomycota

§  Basidiomycota

§  Deuteromycota

§  Mikoriza

§  Lumut Kerak

b)   Kultur

Kultur sel (bahasa Inggris: cell culture) ialah suatu proses dimana suatu sel dari suatu jaringan diambil dan ditumbuhkan pada kondisi yang terkontrol dan aseptik. Sel yang digunakan untuk dikultur biasanya diambil dari jaringan eukaryota. Sel tersebut akan tumbuh dan bertambah banyak dalam kondisi in vitro. Misal sel epitelial, sel fibroblas, dan sel limfoblas yang ditumbuhkan secara in vitro, sel tersebut tidak akan memiliki fungsi in vivo-nya lagi dan dapat dikatakan sebagai sel epitelial-like, sel fibroblast-like, sel limfoblas-like. Sel-sel yang termasuk epitelial-like antara lain sel HeLadan sel Vero. Sel-sel yang termasuk fibroblas-like yaitu, en:lung mice fibroblast (LMF). Sedangkan sel yang termasuk dalam limfoblas-like adalah sel Raji.

Kultur sel (bahasa Inggris: cell line) juga dapat berarti suatu koloni sel yang telah mapan, sehingga mampu melakukan proliferasi tanpa batas waktu. Koloni sel tersebut dapat bermutasi menjadi koloni dengan kultur berbeda, atau merupakan sub-kultur hasil mutasi dari kultur sel sebelumnya.

c)    Media

Berdasarkan sumber karbon yang digunakan, mikroorganisme dapat dibedakan menjadi autotrof yaitu yang dapat mensintesis semua komponen selnya dari CO2 dan heterotrof yaitu yang membutuhkan satu atau lebih senyawa sederhana seperti asam asetat, ada pula yang memerlukan banyak macam senyawa organik dari yang sederhana sampai yang kompleks.

Selanjutnya autotrof dan heterotrof dikelompokkan berdasarkan sumber energinya yaitu fotoautotrof (autotrof yang dapat memanfaatkan energi cahaya matahari dengan bantuan pigmen fotosintetik), khemoautotrof (autotrof yang memperoleh energi dari oksidasi senyawa anorganik sederhana seperti nitrit, nitrat, sulfide), fotoheterotrof (dapat memanfaatkan energi cahaya matahari tetapi perlu sumber karbon organik seperti alcohol) dan khemoheterotrof (perlu sumber energi organik seperti glukosa atau asam amino).

Sumber nitrogen bagi mikroorganisme autotrofik ialah senyawa anorganik dan bagi heterotrof dapat berupa asam amino atau senyawa antara protein seperti peptida, proteosa dan pepton. Mikroorganisme juga memerlukan unsur-unsur logam seperti Na, K, Ca, Mg, Mn, Fe, Zn, Cu, P dan Co untuk pertumbuhannya. Unsur-unsur ini diperlukan dalam jumlah sedikit.

Faktor tumbuh adalah komponen esensial yang tidak dapat disintesis sendiri dari sumber dasar karbon dan nitrogennya, dapat berupa asam amino atau vitamin. Bagi mikroorganisme heterotrof pada umumnya, kebutuhan faktor tumbuh sudah dipenuhi oleh ekstrak daging. Sedangkan bagi pathogen tertentu, diperlukan medium yang lebih rumit seperti agar darah. Keasaman (pH) medium perlu diperhatikan karena mempengaruhi kerja enzim. Sebagian besar bakteri tumbuh baik pada pH sekitar 7. Untuk itu pH medium harus disesuaikan dulu. Sedangkan untuk patogen biasanya perlu pH alkali.  Ada dua macam medium berdasarkan komposisinya yaitu medium sintetik yang komposisinya diketahui pasti dan dibuat dari bahan-bahan dengan kemurnian tinggi dan ditentukan dengan tepat, serta medium non sintetik atau kompleks yang komposisinya tidak diketahui pasti seperti ekstrak daging dan pepton.

Medium serbaguna adalah medium yang dapat menunjang pertumbuhan sebagian besar bakteri seperti medium nutrien cair. Sedangkan medium yang mengandung zat-zat kimia tertentu yang dapat menghambat pertumbuhan suatu kelompok mikroorganisme tanpa menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang diinginkan disebut medium selektif. Ada pula medium diferensial, yang dapat membedakan berbagai tipe bakteri.

Berdasarkan konsistensinya, medium dapat dibedakan menjadi medium cair, padat dan semi padat. Medium cair digunakan untuk pembiakan dalam jumlah besar,mengamati terjadinya fermentasi dan berbagai uji lain. Medium padat digunakan untuk mengamati kenampakan atau morfologi koloni dan mengisolasi biakan murni. Sedangkan medium semi padat untuk menguji motilitas dan kemampuan fermentasi. Medium padat dapat dibuatdengan menambah bahan pemadat berupa agar. Untuk membuat semi padat, bahan pemadat ditambahkan dengan konsentrasi lebih kecil. Bahan yang digunakan untuk pemadat ialah bahan yang tidak dapat digunakan oleh sebagian besar mikroorganisme seperti agar-agar, gelatin atau silika gel. Yang paling banyak digunakan adalah agar-agar, yang larut bila dipanaskan sampai suhu 100°C dan tetap cair bila didinginkan sampai 43°C.

Dewasa ini telah tersedia medium dalam bentuk terdehidrasi (bubuk) sehingga penyiapan medium menjadi sangat mudah, tinggal menimbang, melarutkan dalam air, menyesuaikan pH-nya, menempatkan dalam wadah dan mensterilkan.

B.       Perkembangan Sel Pada Binatang

Hewan atau disebut juga dengan binatang adalah kelompok organisme yangdiklasifikasikan dalam kerajaan Animalia atau metazoa, adalah salah satu dari berbagaimakhluk hidup di bumi. Sebutan lainnya adalah fauna dan margasatwa (atau satwa saja).

Hewan dalam pengertian sistematika modern mencakup hanya kelompok bersel banyak (multiselular) dan terorganisasi dalam fungsi-fungsi yang berbeda (jaringan), sehingga kelompok ini disebut juga histozoa. Semua binatang heterotrof, artinya tidak membuat energi sendiri, tetapi harus mengambil dari lingkungan sekitarnya.

1.    Sel Hewan

Sel hewan memiliki organel yang khas, yaitu adanya sentriol yang berguna pada saat pembelahan sel. Adanya organel tersebut menjadi salah satu ciri yang membedakan antara hewan dan tumbuhan. Ciri-ciri lain dari sel hewan adalah sel hewan tidak memiliki dinding sel, memiliki vakuola berukuran kecil bahkan tidak ada, tidak memiliki plastida. Seperti pada tumbuhan, sel-sel hewan yang memiliki struktur dan fungsi yang sama akan membentuk suatu jaringan.

Sebagian besar sel tersusun dari air dan komponen kimia utama, seperti protein, karbohidrat,lemak, dan asam nukleat. Sel tersusun dari dua lapis membran fosfolipid yang besifat selektif permeabel, yang berarti hanya molekul tertentu saja dapat masuk dan keluar sel.

2.    Pertumbuhan Media

Pertumbuhan pada hewan dibagi menjadi 2 fase, yaitu :

1. Fase Embrionik

Adalah fase pertumbuhan zigot hingga terbentuknya embrio. Fase ini meliputi beberapa tahapan.

a.

Fase Pembelahan (Cleavage) dan Blastulasi

Pembelahan zigot membelah (mitosis) menjadi banyak blastomer.Blastomer berkumpul membentuk seperti buah arbei disebutMorula
Morula mempunyai 2 kutub, yaitu :
* kutub hewan (animal pole)
* kutub tumbuhan (vegetal pole)

Blastulasi sel-sel morula membelah dan “arbei” morula membentuk rongga (blastocoel) yang berisi air, disebut Blastula.

b.

Gastrulasi
Adalah proses perubahan blastula menjadi gastrula.
Pada fase ini :

blastocoel mengempis atau bahkan menghilang

terbentuk lubang blastopole  akan berkembang menjadi anus

terbentuk ruang, yaitu gastrocoel (Archenteron)  akan berkembang menjadi saluran pencernaan

terbentuk 3 lapisan embrionik : ektoderm, mesoderm dan endoderm

Berdasarkan jumlah lapisan embrional, hewan dikelompokkan menjadi:

Hewan diploblastik : memiliki 2 lapisan embrional, ektoderm dan endoderm

Hewan triploblastik : memiliki ketiga lapisan embrional
* triploblastik aselomata : tak memiliki rongga tubuh 
* triploblastik pseudoselomata : memiliki rongga tubuh yang semu
* triploblastik selomata: memiliki rongga tubuh yang sesungguhnya, yaitu basil pelipatan mesoderm

 

c.

Morfogenesis
Proses pertumbuhan, perkembangan dan diferensiasi menjadi organ, sistem organ dan organisme.

d.

Diferensiasi dan Spesialisasi Jaringan
Diferensiasi  jaringan/lapisan embrionik akan berkembang menjadi berbagai organ dan sistem organ. 
Spesialisasi  setiap jaringan akan mempunyai bentuk, struktur dan fungsinya masing-masing.

e.

Imbas Embrionik
Diferensiasi dari suatu lapisan embrionik mempengaruhi dan dipengaruhi oleh diferensiasi lapisan embrionik lain.

 

2. Fase Pasca Embrionik

     Secara umum meliputi metamorfosis dan regenerasi.

Metamorfosis adalah perubahan bentuk secara bertingkat dari masa muda  hewan dewasa.

a.

Serangga
Metamorfosis tak sempurna :
 telur  nimfa  imago.
Metamorfosis sempurna : telur  larva  pupa  imago.

b.

Katak
Zigot  berudu  katak muda  katak dewasa.

Regenerasi adalah kemampuan untuk memperbaiki sel, jaringan atau bagian tubuh yang rusak, hilang atau mati.

– hewan tingkat tinggi  terbatas pada jaringan
– hewan tingkat rendah  dapat sampai pada tingkat organ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s